The Art of Noticing
Dulu, aku menganggap pergi ke kota adalah suatu hal yang menyenangkan. Melihat gedung-gedung besar, menyaksikan pemandangan, dan segala hal yang baru kutemui. Namun, sepanjang perjalanan itu hal paling seru justru saat kepalaku seolah mengajak untuk berbicara. Merangkai kisah-kisah sendiri, membiarkan khayalan tumbuh dari apa yang kulihat. Tulisan yang aku buat hingga dimuat media-media cetak dulu, sebagian besar juga lahir dari kebiasaan itu—mengamati sekeliling. Kadang inspirasi datang saat melihat seseorang mengenakan kostum boneka di pinggir jalan raya, berjalan tak tentu arah sembari menunduk lesu. Atau saat menyaksikan sebuah supercar melaju kencang seakan pengemudinya berusaha mengejar sesuatu yang tak ingin Ia tinggalkan. Mungkin realitanya tidak seperti itu, tapi dari setiap pemandangan yang kutangkap, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik, seringkali lahir lembar-lembar tulisan yang hanya terbit di kepala.
I love being watching people, wondering what they thinking and what struggles they going through right now. Bahkan aku bisa sampai menangis di atas motor karena ini semua. Ketika apa yang aku lihat, dan aku coba proyeksikan mereka pada diriku, rasanya begitu nyata dan kadang menyakitkan. Terkesan lebay memang, mungkin Fina kecil juga akan bingung jika ditanya: "Kenapa segitunya?"
Mengapa kebahagiaan tidak disamaratakan saja?
Aku menangis saat melihat kesengsaraan itu di sepanjang jalan, begitu banyak kesedihan. Lagi pula siapa yang bisa mengontrol saat kepalamu justru seperti menarasikannya? Melihat seorang kakek dengan satu mata berjuang mencari nafkah dengan menjajakan koran, melihat pedagang yang mengusap peluh karena tak ada satupun pembeli yang menghampirinya. Aku juga tak bisa memilah siapa yang aku lihat disepanjang perjalanan. Semua seperti hadir hilang berkelebat begitu saja.
Satu hal dari semua itu adalah bagaimana pada akhirnya muncul keinginan suatu saat ingin dapat berdaya, berdampak baik bagi sekitar. Sejauh ini yang kupikirkan adalah dengan niat belajar sungguh-sungguh meski ada kalanya merasa demotivasi, perasaan optimis tentang masa depan, menghargai orang lain, membantu sekedarnya, dan lainya. Apa kamu juga pernah merasa demikian? Jika ya, kamu pasti dapat menambahkan contohnya lebih banyak!
Tentu semua ini tidak terjadi pada saat aku berpergian saja. Saat sendiri, saat tengah bersama orang lain, saat melihat sekitar. Membuat diriku cukup berhati-hati dalam bertindak meski kadang tindakanku kerap juga disalahpahami. Beberapa orang melihatku lebih sering diam. Pernah juga ada yang beranggapan bahwa aku memiliki kesan yang apatis. But assumptions will always be assumptions if u don't want to know the truth :) I used to not want to disappoint anyone, and I kept thinking about it when I found out someone said that about me. Jatuhnya jadi kelihatan menyedihkan.
"Fin, kamu nggak bisa dinilai dari satu keadaan saja; banyak keadaan lain yang pada akhirnya menggambarkan siapa kamu sebenarnya."
Saat masa wawancara organisasi, ada kakak tingkat yang berkata seperti itu (btw, kalimatnya sudah aku rombak karena kebetulan lupa persis dengan kalimat yang beliau sampaikan hehe) tapi intinya seperti ini kok. Beliau mencoba menenangkan aku sesaat setelah cerita alasan memutuskan masuk organisasi.
Suatu hari setelah pulang dari dauroh, aku inginn sekali bisa menjadi pelopor untuk mengaktifkan kembali remaja masjid deket rumah. Itu semua karena selama dauroh setiap subuh, ada safari masjid. Aku dan yang lain berkeliling masjid untuk sholat subuh. Dari sekian masjid yang dikunjungi, mayoritas bisa maju program kegiatan masjidnya karena banyak anak mudanya. Kegiatan TPQ nya bahkan punya macam agenda, ada juga yang remaja masjidnya punya instagram komunitas. Tidak terbayang olehku sebelumnya. Sayangnya, sewaktu aku mengusahakan hal tersebut. Aku nggak cukup bisa mengajak teman-teman. Memang hal seperti ini cukup sulit jika hanya diusahakan oleh satu atau dua orang saja tanpa ada support. Saat itu, aku juga masih SMP, anak seusiaku belum dilibatkan dalam rapat takmir. Akhirnya bertahun-tahun itu jadi sebuah (istilah trend sekarang: inner child) yang belum terpenuhi.
Ramadhan, 2025
Bulan Ramadhan kali ini bisa dibilang menjadi salah satu dari sekian Ramadhan dengan kegiatan yang sangat padat. Selain tugas perkuliahan yang seringkali mengharuskan kerja kelompok, ada banyak kegiatan lain yang menunggu untuk diselesaikan. Aku mungkin harus berterima kasih *bow like a soldier untuk teman-teman bidang Intelektual yang dengan sigap menerima job dadakan. Terima kasih sudah memenuhi permintaan takmir masjid dengan baik. Terima kasih juga untuk staf bidang Sosial yang mengatur jadwal piket mengajar. Sudah dua tempat (TPQ) yang aku datangi, dan rata-rata mereka mengeluhkan kekurangan pengajar. Keresahan ini rasanya tak asing, karena ini seperti sudah terbayang sejak dulu :(. Setelah berunding bersama dua bidang tersebut, mendengarkan penjelasan dari takmir dapat ditarik kesimpulan, kehadiran di sini begitu penting bukan hanya untuk mengisi kekosongan, tapi juga menjadi salah satu usaha untuk meramaikan masjid dengan anak muda.
Terima kasih kepada staf bidang HRD dan Pengurus Harian yang telah menyusun dan mempersiapkan kegiatan berbagi (Sedekah Senja) sekaligus agenda keakraban (Share At) dengan terstruktur. Sebelumnya, aku sempat menyampaikan kepada Kabid HRD tentang ide menyisipkan teks motivasi dalam paket takjil, sesuai dengan makna organisasinya, Kalam. Apresiasi juga untuk staf bidang Kominfo yang selalu menjadi garda terdepan dalam peliputan, serta bidang Danus yang telah membantu dalam proses pembelian dan pengemasan takjil. Pada akhirnya, semua bekerja dengan baik, dan ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Harapanku, semoga kalian tidak ada yang merasa terbebani. Mungkin saja, semua ini terlihat biasa-biasa saja. Namun bagiku, setiap dari kalian telah berkontribusi dengan caranya masing-masing. Hal kecil sekalipun bisa berarti besar bagi orang lain. Kemarin saat aku membantu distribusi, ada seorang ojol yang rela putar balik untuk menerima paket takjil. Setelah menerima ojol tersebut berkata dengan senyum tulus, "Makasih ya, Mbak, akhirnya dapet juga." Kalimat sederhana itu rasanya cukup mengingatkan bahwa usaha kita nggak pernah sia-sia.
Kemudian untuk kakak tingkat yang sudah meyakinkan aku, terima kasih. Sekarang aku mengerti, dan perlahan aku sadar bahwa melalui pengalaman ini, ada bagian dari diriku—mungkin sebagian dari inner child-ku—yang akhirnya terpenuhi (tapi ini bukan hanya sebatas masalah inner child). Mensyukuri menjadi jawaban yang tepat, pada akhirnya melihat sekeliling untuk mencari hikmah atas dasar apa tujuan kita diciptakan dan memaknai apa yang terjadi adalah sebuah anugerah.

Komentar
Posting Komentar