“Viryal boleh minta tolong buat bawakan nampan ini nanti kedepan?” ucapku seraya menunjuk sebuah nampan dengan tumpukan baju pdh warna hijau khas organisasi keislaman yang sebelumnya sudah diurutkan berdasar penyerahan sekaligus penyematan pada saat prosesi pelantikan nanti. Viryal, pengurus baru Angkatan 24 diperiode ini mengangguk, kemudian bertanya terkait mekanismenya.
“Boleh mbak, itu nanti begini ya…” Kurang lebih begitulah kelanjutannya. Momen ini sejenak membuatku teringat ketika aku masih di periode pertama. Saat itu, aku sebagai sie konsumsi dalam kepanitiaan pelantikan internal. Kata kakak tingkat nanti diurutan kesekian aku harus berjalan memutari kursi-kursi di belakang guna mengantar nampan berisi pdh, sama persis seperti saat aku meminta Viryal tadi. Saat itu, aku banyak ragu dan sungkannya. Maka dari itu, meski terkadang kurang paham dengan perintah yang diberikan. Aku berusaha mencari tahu sesuatu dengan caraku. Syukurlah, pelantikan berjalan lancar, aku melakukan tugasku untuk mengantar pdh itu dengan baik. Hingga tak mengira sekarang giliran aku yang meminta adik tingkat untuk melakukan tugas tersebut.
Sabtu, 22 Februari 2025
Hari dan tanggal pelantikan ini sudah melewati proses perpindahan. Setelah sebelumnya aku langsung meminta sekretaris memindah ditanggal tersebut, tujuannya supaya mereka tidak keteteran karena baru masuk usai selesai dari libur panjang. Belum lagi, konon katanya ada desas desus libur akan diperpanjang jadilah lebih baik ditetapkan ditanggal sekian. Setidaknya jika tanggal masuknya maju ataupun mundur, tanggal ini masih aman. Aku kurang begitu paham kenapa organisasi yang aku ikuti ini perlu mengadakan pelantikan internal. Selain karena adat turun temurun, sejauh yang aku yakini meski sudah ada pelantikan dari universitas, pelantikan internal tetap memberikan kesan yang berbeda. Ia tak ubahnya seperti mengingatkan kami akan tanggung jawab yang mesti diemban. Karena sudah berani memilih, semestinya apapun hal yang menyenangkan atau tidak harus tetap dijalani. Manfaat lain dari pelantikan internal adalah antar pengurus dapat mulai saling mengenal dan lebih mengetahui struktural organisasi karena semuanya tetap akan disebut nama dan perannya.
Sehari sebelum pelantikan, aku sudah membuka draft rundown acara pelantikan. Memastikan bahwa tidak ada yang terlewat, ataupun kata-kata yang sekiranya typo walaupun aku sudah melakukan pengecekan sejak seminggu lalu. Lagi pula, aku juga cukup percaya dengan dua sekretaris yang sudah menjabat dua periode ini. Sedikit tertegun, saat akhirnya netraku menemukan kalimat "Prakata Ketua Umum" berarti aku perlu maju kedepan memberi prakata.
Sebenarnya sejak Sekolah Dasar (SD) sudah sering aku dipaksa untuk maju kedepan, kadang kala walaupun merasa bukan passion untuk ngomong kalau memang sudah ditunju, sulit rasanya untuk menolak. Bukan berarti people pleaser, tapi aku merasa kalau... ya sudah itu bagian dari cara belajar. Saat SMA, aku pernah ditunjuk jadi MC disebuah acara MATSAMA (Masa Ta'aruf Siswa Madrasah) dengan murid yang banyak jumlahnya. Walaupun berjalan dengan baik hingga akhir, aku cukup bertekad kala itu bahwa aku tidak mau lagi untuk ikut organisasi dan rela maju kedepan. Entah apa yang aku pikirkan sampai saat ini karena pada akhirnya aku bisa berakhir kembali menjadi pengurus organisasi. Mungkin bisa lain kali ada cerita khusus untuk ini. Jelasnya, setelah habis masa ketergunanku, aku mulai mengambil pena dan kertas lantas membuka YouTube untuk belajar cara memberikan prakata yang baik. Aku menulis lalu banyak mencoret-coret dan menulis lagi hingga kertasnya sudah full berisi tulisanku.
Esoknya pun, saat perjalanan ke kampus aku berlatih dijalanan. Beberapa bagian pastinya ada yang diimprovisasi, dan benar saat akhirnya aku harus maju memberi prakata setelah demisioner, banyak kalimat yang tidak aku pikirkan mendadak keluar dengan sendirinya. Aku berusaha menikmati apa yang aku ucapkan, begitu pula bagaimana perasaan dari pendengar, teman-teman yang menyimak dibangku mereka. Menurutku yang sudah tiga periode merasakan pelantikan internal, kegiatan ini menjadi sebuah kekhasan sendiri bagi individu dan kadang karena begitu terasa maknanya bisa sampai mempengaruhi perilaku. Kalau dulu diperiode pertama, aku cukup terkesan pada lagu yang menjadi pengantar sesaat sebelum pelantikan dimulai.
Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa
Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu, para pejuang
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti?
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pasti kan hinggap?
Karena begitu berkesan, aku menyampaikan cuplikan lirik tersebut kepada teman-teman pengurus periode ini. Pada bagian: bahwa jalan kebenaran itu tak akan pernah sunyi, akan ada banyak rintangannya. Mungkin saja saat ini begitu semangat, tapi ada kalanya rasa semangat itu memudar seiring tidak terealisasinya ekspektasi. Mungkin saja saat ini aktif dan selalu datang ke setiap agenda kegiatan, tapi ada kalanya merasa kalau itu tidak lagi penting untuk dihadiri. Sehingga, pada akhirnya rasa ikhlas dan selalu mau memaknai semua hal yang terjadi pada hidup meskipun sedang senang, sedih, dan sulit adalah sebuah obat tersendiri supaya tetap melangkah. Kelak, karena sudah bertanggung jawab dengan totalitas untuk memenuhi tanggung jawab ini mungkin saja menjadi sebab suksesnya dunia dan akhirat, Aamiin...
Komentar
Posting Komentar