Postingan

The Art of Noticing

Gambar
         Dulu, aku menganggap pergi ke kota adalah suatu hal yang menyenangkan. Melihat gedung-gedung besar, menyaksikan pemandangan, dan segala hal yang baru kutemui. Namun, sepanjang perjalanan itu hal paling seru justru saat kepalaku seolah mengajak untuk berbicara. Merangkai kisah-kisah sendiri, membiarkan khayalan tumbuh dari apa yang kulihat. Tulisan yang aku buat hingga dimuat media-media cetak dulu, sebagian besar juga lahir dari kebiasaan itu—mengamati sekeliling. Kadang inspirasi datang saat melihat seseorang mengenakan kostum boneka di pinggir jalan raya, berjalan tak tentu arah sembari menunduk lesu. Atau saat menyaksikan sebuah supercar melaju kencang seakan pengemudinya berusaha mengejar sesuatu yang tak ingin Ia tinggalkan.  Mungkin realitanya tidak seperti itu, tapi dari setiap pemandangan yang kutangkap, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik, seringkali lahir lembar-lembar tulisan yang hanya terbit di kepala.     I love bei...

Sebuah Prakata

Gambar
          “Viryal boleh minta tolong buat bawakan nampan ini nanti kedepan?” ucapku seraya menunjuk sebuah nampan dengan tumpukan baju pdh warna hijau khas organisasi keislaman yang sebelumnya sudah diurutkan berdasar penyerahan sekaligus penyematan pada saat prosesi pelantikan nanti. Viryal, pengurus baru Angkatan 24 diperiode ini mengangguk, kemudian bertanya terkait mekanismenya.           “Boleh mbak, itu nanti begini ya…” Kurang lebih begitulah kelanjutannya. Momen ini sejenak membuatku teringat ketika aku masih di periode pertama. Saat itu, aku sebagai sie konsumsi dalam kepanitiaan pelantikan internal. Kata kakak tingkat nanti diurutan kesekian aku harus berjalan memutari kursi-kursi di belakang guna mengantar nampan berisi pdh, sama persis seperti saat aku meminta Viryal tadi. Saat itu, aku banyak ragu dan sungkannya. Maka dari itu, meski terkadang kurang paham dengan perintah yang diberikan. Aku berusaha mencari tahu s...